A Comparative Lens on Higher Education Accrediting: Lessons from Australia and India

Contributor & Photo by: Virda Lalitya Umam

Two years post-enactment of the Minister of Education, Culture, Research, and Technology Regulation No. 53/2023 on Quality Assurance of Higher Education, whether to retain the hierarchical system entirely or to shift to a binary classification remains an ongoing discourse in Indonesia.

To shed some light on this topic, the Faculty of Education at Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) hosted a seminar titled Rethinking Accreditation Policy in Higher Education, moderated by R. Alpha Amirrachman, PhD, lecturer at the Faculty of Education. This seminar, part of a two-session event under the same title, aims to draw lessons and best practices in higher education accreditation from our neighboring nations.

The first speaker to present was Jen Bahen, Regulatory Operations Executive Director at the Tertiary Education Quality and Standards Agency (TEQSA) in Australia. Ms. Bahen, who joined this session via Zoom, explained that Australian higher education providers must be registered under TEQSA as the national regulator and have this registration renewed every seven years. While certain providers, mainly universities, can self-accredit their courses, others without such authority must have their courses accredited by TEQSA instead. That being said, Australia assigns a binary system for both provider registration and course accreditation.

As stated by Ms. Bahen, the primary goal of Australia’s accreditation is more to ensure providers’ compliance than to drive improvement. Nonetheless, the criteria for their assessment are more student-centric—if students and graduates are satisfied and achieve good outcomes, then the provider would be considered successful in their education, despite not holding any hierarchical accreditation title. Ms. Bahen also detailed TEQSA’s stance as a risk-based regulator, utilizing risk to balance a rigorous accreditation process with the administrative burdens placed on providers. TEQSA emphasizes assessing a provider’s high-risk aspects compared to those with significantly lower risks.

The following speaker was Kamal Khurana, Acting Director of the Jawaharlal Nehru Indian Cultural Center (JNICC), part of the Embassy of India in Indonesia, who gave an overview of India’s higher education accreditation practices. In India, accreditation for higher education providers is primarily handled by the National Assessment and Accreditation Council (NAAC), an autonomous body under the University Grants Commission (UGC). They follow a three-step process of self-study, peer review, and grading, emphasizing criteria such as curriculum, teaching and learning, research, student support, governance, and institutional values. Recently, India has shifted to a binary accreditation system of Accredited and Not Accredited to increase transparency and simplify administrative processes.

Another aspect Mr. Khurana highlighted is how India accommodates the right to education as a whole. India has a broad selection of higher education providers, such as central and state public universities, deemed universities, institutions of national importance, autonomous colleges, and standalone institutions, to name a few. This diverse range ensures a wide array of options for students, catering to various interests and specializations. Additionally, since many students in India come from economically disadvantaged families, the government provides significant subsidies to support their education journey, among them for books, reading materials, and scholarships.

From the two speakers, we can reflect on a few things that their respective countries have implemented in higher education accrediting: putting more attention to areas that each institution struggles with, using assessment criteria that center more on the outcomes of students and graduates, and providing equitable financial support for teaching and learning activities. This seminar, alongside the prior Focus Group Discussion (FGD), affirms UIII’s support in formulating accreditation policies as not mere shows of force but tangible, data-driven efforts to reform Indonesia’s education system.

source: https://uiii.ac.id/a-comparative-lens-on-higher-education-accrediting-lessons-from-australia-and-india/

Privacy Preference Center

Timing pada Lucky Neko dan Batas Membaca Ritme Putaran secara ObjektifVariasi Putaran Treasures of Aztec Menjelaskan Peran Probabilitas dalam Pengalaman BermainGanesha Fortune sebagai Contoh Memahami Risiko dalam Permainan Berbasis ProbabilitasTeknologi PG Soft pada Mahjong Ways dan Struktur Mekanisme Permainan DigitalMahjong Wins 2 Menunjukkan Perubahan Desain dan Interaksi dalam Permainan DigitalSweet Bonanza dalam Referensi Komunitas Digital dan Batas Informasi yang Perlu DipahamiRTP Starlight Princess sebagai Data Statistik untuk Membaca Variasi Hasil PermainanPerubahan Hasil Fortune Tiger dalam Kerangka Probabilitas dan Varians Permainan DigitalLive RTP Fortune Dragon dan Keterbatasannya dalam Menilai Peluang Setiap PutaranData RTP Harian Big Bass Bonanza sebagai Informasi tentang Dinamika PermainanTiming Wild West Gold dan Risiko Bias Saat Menafsirkan Pola PutaranVarians dan Standar Deviasi Wild West Gold dalam Menjelaskan Sebaran Hasil PutaranMekanisme Pengganda Caishen Wins Ditinjau melalui Probabilitas dan Distribusi Hasil PermainanFortune Dragon di Platform Mobile dan Perubahan Pengalaman Hiburan Digital PenggunaRelease the Kraken Menggabungkan Tema Fantasi dengan Mekanisme Putaran yang Dinamis
Visual Starlight Princess dan Perannya dalam Membentuk Pengalaman Imersif PenggunaAI untuk Analisis RTP Live Mahjong Wins 3 dan Batas Membaca Ritme PermainanRNG Mahjong Ways 2 sebagai Dasar Memahami Probabilitas dan Independensi Setiap PutaranMahjong Wins 3 Menunjukkan Perubahan Desain dalam Hiburan Interaktif DigitalPerbedaan Volatilitas Mahjong Ways 2 dan Game Klasik dalam Perspektif Matematika PermainanPemrosesan Data pada Permainan Digital dan Kaitannya dengan Pengalaman Mahjong Wins 3Cara Kerja Pengganda Gates of Olympus Ditinjau dari Probabilitas dan Mekanisme PermainanVisual Bertempo Cepat Sweet Bonanza dan Kaitannya dengan Fokus Pengguna Selama BermainRTP Online Starlight Princess sebagai Informasi Statistik untuk Memahami Variasi HasilPerbandingan Variansi Blackjack dan Mahjong Wins untuk Memahami Sebaran Hasil PermainanRTP Live Blackjack dan Mahjong Wins serta Risiko Salah Tafsir dalam Diskusi KomunitasPola Mahjong Ways 2 yang Ramai Dibahas dan Batas Validitas Pembacaan PutaranCara Menilai Pola Mahjong Ways 2 tanpa Menganggap Hasil Sebelumnya sebagai PrediksiPanduan Memahami Mahjong Ways 2 melalui Probabilitas Varians dan Mekanisme PermainanPyramid Bonanza dan Variasi Putaran yang Membentuk Ritme Pengalaman Permainan Digital
RTP Starlight Princess sebagai Informasi Statistik untuk Memahami Variasi Hasil PermainanFortune Rabbit dan Wild Ape Menunjukkan Peran Visual dalam Menarik Perhatian PenggunaSugar Rush sebagai Studi Kasus Pembacaan Data tanpa Menjadikannya Prediksi HasilData Permainan Aviator dan Risiko Salah Menafsirkan Perubahan Hasil Setiap PutaranFortune Rabbit sebagai Contoh Memahami Variasi Hasil dalam Sistem Permainan DigitalPyramid Bonanza Menunjukkan Variasi Putaran yang Berbeda dalam Setiap Sesi PermainanPerkembangan Teknologi Digital Mengubah Cara Crazy Time Menyajikan Pengalaman InteraktifTeknologi Digital pada Aviator Membentuk Pengalaman Permainan yang Semakin ResponsifPerkembangan Sistem Digital Membuat Spaceman Lebih Fleksibel dalam Menyajikan Interaksi PermainanFitur Scatter dan Wild Mahjong Ways 2 Ditinjau melalui Mekanisme Permainan secara TerstrukturMemahami Scatter dan Wild Mahjong Ways 2 melalui Struktur serta Variansi PermainanScatter dan Wild Mahjong Ways 2 dalam Kajian Variansi serta Mekanisme Permainan DigitalKritik Narasi Kemenangan Instan pada Iklan Aviator dan Fakta Statistik yang Sering DiabaikanPerkembangan Infrastruktur Digital Mengubah Cara Fortune Tiger Menyajikan Interaksi PermainanMekanisme Reward Crazy Time dan Risiko Munculnya Perilaku Impulsif pada Pengguna
Sistem Kriptografi Aviator dan Perbedaannya dengan Mekanisme Keadilan Platform KonvensionalTeknologi Rendering Starlight Princess dan Perannya dalam Meningkatkan Detail Visual PermainanMahjong Ways 2 dan Perubahan Pola Interaksi Sosial dalam Komunitas Permainan DigitalShaolin Fortune Memadukan Unsur Bela Diri dan Arsitektur Timur dalam Desain VisualPemantauan Sistem Mahjong Ways dan Perannya dalam Menjaga Stabilitas Operasional PlatformModel Probabilitas Fortune Tiger dan Batasannya dalam Menafsirkan Perubahan Hasil PutaranEvaluasi Berkala Mahjong Ways untuk Memahami Variasi Mekanisme dan Perilaku Sistem PermainanPenyebaran PG Soft dan Fortune Rabbit di Berbagai Kanal Platform DigitalFree Spins Mahjong Ways 2 dan Pembentukan Ekspektasi Pemain dari Perspektif PsikologiSweet Bonanza dan Hubungan Aktivitas Bermain dengan Produktivitas dalam Kehidupan DigitalInteraksi Scatter dan Wild Mahjong Ways 2 dalam Kerangka Probabilitas PermainanInfrastruktur Data Mahjong Ways dan Faktor yang Menentukan Keandalan Operasional Sistem DigitalPeran Machine Learning dalam Pengembangan Fitur Responsif pada Platform Gates of OlympusMahjong Wilds dan Tantangan Membangun Infrastruktur Permainan Digital yang BerkelanjutanCrazy Time antara Daya Tarik Visual dan Risiko Finansial bagi Pengguna DigitalMomentum Bermain Kini Lebih Mudah Dievaluasi Melalui Analisis PergerakanFleksibilitas Mahjong Wins Mendorong Meningkatnya Minat Pengguna Smartphone terhadapPlatform Permainan Modern Terus Berkembang Melalui Adaptasi KonsepKeterbukaan Informasi RTP Menjadi Indikator Penting dalam Menilai KredibilitasMahjong Digital Menjadi Alternatif Hiburan Interaktif yang Menggabungkan Strategi danInovasi Mahjong Wins 3 Mendukung Efisiensi Teknologi dalam PengembanganVolatilitas Mahjong Ways Online Memberikan Perspektif Baru dalam MengaturPendekatan Bermain yang Lebih Terukur Membantu Pengguna PG SOFT Mengelola RisikoAlgoritma Prediktif dan Retensi Pengguna Menjadi Fokus Evaluasi IndustriPergeseran Aktivitas Mahjong Ways 2 Menjadi Bagian dari Dinamika KomunitasKomunitas Mahjong Indonesia Beradaptasi dengan Perubahan Tren HiburanProbabilitas Digital Menjadi Acuan dalam Memahami Evolusi Algoritma PermainanMengapa Setiap Animasi Bonus Memiliki Durasi yang Berbeda pada BerbagaiMengapa Tata Letak Simbol Mahjong Ways 2 Lebih Mudah Ditangkap Mata DibandingPsikologi Warna Emas pada Gates of Olympus Ternyata Memiliki Pengaruh terhadapIrama Efek Suara Sugar Rush 1000 Dirancang untuk Menjaga Perhatian PemainSusunan Ikon Permainan Slot Memiliki Hubungan Erat dengan Cara Otak MemprosesGerakan Animasi Halus Menjadi Alasan Antarmuka PG SOFT Terasa LebihMengapa Tata Cahaya pada Mahjong Wins 3 Dibuat Berlapis dan Tidak SekadarBentuk Tombol Interaktif Menjadi Faktor Penting dalam Kenyamanan MenavigasiKomposisi Warna Cerah Membantu Membedakan Fitur Penting padaNuansa Oriental pada Mahjong Ways Memberikan Ciri Khas yang Sulit Disamakan denganEfek Visual Berlapis Menjadikan Setiap Kombinasi Simbol TerlihatIlustrasi Berkualitas Tinggi Membentuk Karakter Unik pada Berbagai JudulTata Letak Menu yang Ringkas Membantu Pengguna Baru BeradaptasiKarakter Animasi Menjadi Salah Satu Daya Tarik Utama dalam PermainanSimbol Bergaya Minimalis Membuat Tampilan Slot Lebih Bersih danPerpaduan Musik dan Efek Suara Menciptakan Suasana Bermain yangKombinasi Warna Hangat Memberikan Kesan Cerah Tanpa MengurangiGerakan Animasi Halus Membuat Setiap Transisi Terlihat Lebih